Jumat, 12 Agustus 2011 pukul 16:08:00
Membangun ekonomi umat berbasis masjid. Ini merupakan salah satu tujuan Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) merangkul para pemuda dan remaja masjid dalam seminar dan workshop "Entrepreneur Berbasis Masjid" di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, pada 5-7 Agustus 2011 lalu.
Sekjen JPRMI Juni Supriyanto mengatakan, seminar diikuti 75 orang yang merupakan perwakilan 13 wilayah JPRMI serta remaja dan pemuda masjid di wilayah Jakarta. Perwakilan itu, di antaranya dari Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Lampung, DKI Jakarta, Jateng, Jatim, dan Jabar.
Seminar mengenai enterpreneurship atau kewirausahaan ini adalah bagian dari Gerakan Nasional Ayo ke Masjid. "Kita ingin mereka mampu mengembangkan bisnis berbasis masjid," katanya dalam keterangannya, Senin (8/8). Dalam gerakan nasional itu, JPRMI fokus pada pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Valentino Dinsi dari Labschool, Ketua Umum Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) Eman Sukirman, General Manager Yayasan Baitul Maal BRI Nasir Tajang, dan motivator Zainal Abidin menjadi pembicara. Mereka menyampaikan pengalaman dan masukan mengenai kewirausahaan.
Ketua Umum JPRMI Otong Somantri mengatakan, seharusnya pengurus masjid mencari sumber dana selain bantuan. Sekarang saatnya membangkitkan kewirausahaan khususnya untuk jamaah muda. Jadi, sumber pendanaan bisa diperoleh dari usaha mandiri.
"Kita harus tanamkan jiwa kewirausahaan meskipun hasilnya mungkin baru dirasakan tujuh tahun mendatang. Ketika anak-anak muda menjadi pengurus masjid, kita harapkan ekonomi berbasis masjid tumbuh dengan baik," kata Otong, yang hadir dalam seminar.
Menurut Nasir Tadjang, untuk menumbuhkan perekonomian di masjid harus dimulai dari pembekalan keterampilan sumber daya yang mengelola dan aktif di masjid. Jenis usaha yang dapat diterapkan, misalnya, pendirian taman pendidikan Alquran.
Sumber pendanaannya diperoleh dari iuran para siswa. Artinya, jelas Nasir, dari penghasilan yang didapat, 80 persennya untuk para pengelola dan sisanya diberikan ke masjid. "Tapi, jangan menutup untuk golongan yang tidak untuk mampu untuk belajar di tempat tersebut," imbuhnya.
Dengan program yang sudah dikembangkannya, YBM BRI membantu sumber pendanaan mandiri bagi masjid-masjid di Indonesia. YBM memberi satu ekor sapi untuk diternak kepada masjid yang terpilih. Setelah besar dan ada hasilnya, sebanyak 80 persen untuk pemeliharaan ternak dan 20 persen untuk masjid.
Dibutuhkan sekitar empat juta pengusaha untuk memajukan perekonomian bangsa. Eman Sukirman mengungkapkan, kini di Indonesia baru ada 0,18 persen saja pengusaha. Upaya pembinaan terhadap pemuda dan remaja masjid memungkinkan adanya pengusaha-pengusaha Muslim baru.
Di Indonesia, ada sekitar 700 ribu masjid. Seandainya setiap dari setiap masjid ada satu pengusaha Muslim, maka akan ada 700 ribu pengusaha yang mendukung perekonomian negara. kiriman jprmi ed: ferry kisihandi
Sumber: Koran Republika 12 Agustus 2011, Dialog Jumat Hal 8