Selasa, 04 Oktober 2011 pukul 08:56:00
Nashih Nashrullah
Persoalan sumber daya harus diatasi.
JAKARTA - Potensi ekonomi yang dapat dikembangkan oleh lembaga pendidikan Islam dan lembaga Islam besar, caranya dengan menumbuhkan kemandirian. Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, mengatakan kemandirian dapat diwujudkan dengan kegiatan wirausaha. "Dalam hal ini, perlu contoh," katanya kepada Republika, Senin (3/10).
Menurut dia, lembaga pendidikan yang dikembangkannya selama ini mutlak membutuhkan dana yang besar dan itu mestinya ditopang oleh kekuatan sendiri. Ia bersyukur hal itu berhasil mengembangkan potensi ekonomi yang ada. Saat ini, pesantren ini mengembangkan sebanyak 32 unit usaha di berbagai bidang, mulai dari perdagangan, industri, peternakan, pertanian, sampai perhutanan.
Perdagangan dilakukan dengan mendirikan koperasi dan toko bangunan. Jumlah harta yang diraup dari kegiatan ekonomi itu mencapai Rp 1,5 miliar per tahun. Bahkan, pesantren ini memiliki 260 hektare sawah dan 300 hektare kebun kelapa sawit. Geliat ekonomi pesantren membawa pengaruh positif pada masyarakat sekitar.
Pesantren, jelas Kiai Zarkasyi, mempekerjakan 569 orang dengan bayaran untuk mereka sebesar Rp 382 juta per bulan. Pendiri Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqien, Jonggol, Bogor, Jawa Barat, Muhaimin Iqbal, mengatakan kendala yang kerap dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam untuk meningkatkan kemandirannya ialah rendahnya sumber daya manusia.
Dunia pesantren, misalnya, bisa dibilang belum menguasai dan akrab dengan sektor usaha. Tetapi, hal ini terus diperbaiki dengan menggelar berbagai pelatihan dan pendampingan. Fokusnya tak sebatas pada pengenalan teori, tetapi harus didukung dengan praktik yang meliputi aspek-aspek manajerial, distribusi, dan pemasaran.
Hasil yang dicapai pesantrennya menggembirakan. Usaha yang dibina di lembaganya tak menekankan aspek keuntungan, namun mampu menyedot banyak tenaga kerja. Setidaknya terdapat 80 pekerja internal dan 150 pekerja di luar lokasi yang ikut merasakan manfaat pesantrennya tersebut. Usaha yang jalankan beragam. Ada peternakan kambing, pembudidayaan jamur, dan industri.
Sekjen Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI), Juni Supriyanto, memandang perlunya sinergi lembaga pendidikan Islam untuk memaksimalkan potensi ekonomi tersebut. Terlebih potensi perekonomian umat Islam di Tanah Air luar biasa. Mengingat 80 persen hampir 300 juta penduduk Indonesia ialah Muslim.
JPRMI, katanya, berkomitmen turut mengembangkan wirausaha berbasis masjid. Program itu terealisasi melalui kerja sama dan dukungan sejumlah instansi dan lembaga keuangan mikro Islami, seperti baitulmal atau dana infak, sedekah, dan zakat dari perusahaan. Pengembangan ekonomi itu termasuk bagian dari gerakan nasional JPRMI "Ayo ke Masjid" yang diluncurkan pada Juli 2011 lalu.
Program yang tengah berjalan, antara lain, pembuatan kurma tomat di Jawa Tengah, budidaya ikan di Riau, dan kerajinan tangan di Sumatra Utara. Ke depan, target lokasi akan ditambah. Minimal 2012 mendatang penetrasi bisa tercapai hingga 80 persen dari 33 provinsi. ed: ferry kisihandi
Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/14/144572/Potensi_Ekonomi_Besar