Juni Supriyanto, Tak Sebatas Pelatihan

wawancara
Mewujudkan kemandirian ekonomi remaja dan pemuda masjid serta membangun ekonomi berbasis masjid diyakini sebuah rencana besar yang diharapkan berjalan mulus. Sekjen Jaringan Remaja dan Pemuda Masjid Indonesia (JPRMI), Juni Supriyanto, mengatakan JPRMI dengan "Gerakan Nasional Ayo ke Masjid" mengarah ke sana. Merintis kewirausahaan dan kemandirian ekonomi menjadi satu pilarnya.
Belum lama ini, JPRMI memberikan pelatihan kewirausahaan kepada remaja dan pemuda masjid dari perwakilannya di puluhan provinsi di Indonesia. Ia mengatakan, ternyata pelatihan saja tak cukup. Butuh hal pembinaan lain untuk mewujudkan impian besar itu. Misalnya, modal dan pembinaan manajemen keuangan.
"Secara teknis juga, tantangan lainnya adalah masih minimnya remaja dan pemuda yang tertarik untuk berkeringat. Kewirausahaan ini mencakup sektor riil yang butuh kerja keras," katanya kepada wartawan Republika, Damanhuri Zuhri, Selasa (6/9). Juni mengungkapkan, banyak rumusan bagaimana membina pemuda masjid. Berikut petikannya.
Apa pentingnya membina para pemuda masjid, pengurus masjid, dan masyarakat sekitar masjid untuk mengembangkan ekonomi mandiri atau kewirausahaan?
Dalam membahas urgensi membina para pemuda masjid dan masyarakat sekitar masjid, saya mengambil tiga kata kunci, yaitu remaja atau pemuda, masjid, dan ekonomi. Remaja atau pemuda dalam struktur demografi penduduk Indonesia menduduki porsi yang besar atau kurang lebih 37,2 persen dari total penduduk Indonesia.
Selain kuantitas, mereka mempunyai ciri tersendiri, yaitu pemikirannya semangat dan penuh kreativitas. Ini pula yang membedakan mereka dengan kelompok usia tua yang cenderung status quo. Dari kondisi seperti itu, mereka cocok dibina sebagai agen perubahan. Kata kunci kedua adalah masjid yang belum dapat digunakan meningkatkan syiar Islam dalam membangun peradaban.
Fakta penting yang terjadi adalah masjid dibangun sedemikian banyak. Sayangnya belum mampu mengantarkan masyarakat Indonesia seperti para sahabat Rasulullah. Menurut rekapitulasi masjid dan mushala di DKI Jakarta, jumlah masjid yang berada di wilayah DKI sebanyak 2.831 unit dan 5.661 mushala.
Sedangkan di Indonesia, diperkirakan ada 700 ribu masjid. Kendala terbesarnya, masjid baru menjadi bangunan megah, tetapi sepi dari roh umat, kosong, dan hanya untuk kegiatan-kegiatan ibadah mahdah. Kata kunci ketiga adalah ekonomi. Persoalan mendasar dari remaja atau pemuda bangsa Indonesia adalah pengangguran.
Data Biro Pusat Statistik 2007 menyebutkan, jumlah pengangguran berdasarkan tingkat pendidikan mencapai 10.011.142 orang. Pengangguran lulusan SMA mencapai 4.070.553 atau 40,6 persen. Sementara pengangguran lulusan diploma mencapai 397.191 orang atau sekitar 3,9 persen dan pengangguran yang sarjana mencapai 566.588 orang atau sekitar 5,6 persen.
Jika ketiga kelompok level pendidikan ini digabung, jumlah pengangguran di kalangan pemuda mencapai 50,3 persen. Maka, diperlukan konsep pembangunan pemuda yang terencana.
Apa saja bentuknya?
Pembangunan pemuda harus dititikberatkan pada persiapan mereka menghadapi ketidakpastian masa depan, yang mencakup sisi fisik tetapi juga membangun karakter dan kapasitas mereka berupa kompetensi, pendidikan, pelatihan, dan keterampilan. Dengan melihat itu semua, kita sepakat membina remaja atau pemuda masjid dengan kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan adalah penting.
Apa yang ingin dicapai dari upaya ini?
Sebenarnya, tujuan kita sederhana, yaitu ingin memakmurkan masjid. Hal ini sudah kita canangkan melalui "Gerakan Nasional Ayo ke Masjid". Salah satu pilar yang kita usung adalah fokus pada ekonomi. Seperti kita ketahui, jumlah penduduk kita yang lebih dari 220 juta jiwa merupakan pasar yang sangat besar. Indonesia saat ini masuk dalam kelompok G-20. Itu berarti secara ekonomi sangat menjanjikan.
Salah satu faktor pendukungnya adalah jumlah kelompok usia produktif yang besar. Nah, Indonesia sampai dengan 2030 sedang menikmati masa-masa tersebut. Kelompok usia produktif mendominasi piramida demografi penduduk Indonesia. Inilah salah satu golden era untuk mendorong Indonesia menjadi negara besar dari sisi ekonomi.
Mempertimbangkan potensi besar yang terdapat pada diri remaja atau pemuda serta potensi masjid sebagai pusat peradaban umat Islam, dapat disimpulkan ini merupakan kekuatan besar yang menunggu untuk dikembangkan dalam sebuah program pembangunan remaja atau pemuda masjid berbasis kemandirian ekonomi.
Perlukah pembinaan dilakukan di seluruh masjid di Indonesia dan mitra paling penting siapa?
Jika ditanya perlu atau tidak, semua pasti menjawab perlu. Hanya saja, kita masuk ke tahap berikutnya, bagaimana mengimplementasikan impian tersebut. Tahap awal, kita terus melakukan konsolidasi internal dan eksternal. Internal adalah untuk menghimpun organisasi pemuda remaja masjid yang siap untuk menjadi bagian dari rencana besar ini karena JPRMI tidak akan bisa bergerak sendiri.
Kemudian, konsolidasi eksternal kita kuatkan yang tujuannya mencari mitra serta pendukung proyek besar ini. Mitra tak sebatas dari lembaga sosial, tetapi juga menjangkau kegiatan sosial (CSR) perusahaan. Saat ini sudah ada beberapa komitmen baik lisan maupun melalui kesepakatan untuk mendukung kegiatan ini baik dari individu maupun lembaga.
Kegiatan yang kita lakukan, ada pelatihan kewirausahaan yang mengundang perwakilan dari provinsi di seluruh Indonesia. Dalam pelatihan tersebut juga terjadi kesepakatan-kesepakatan program antara perwakilan wilayah dan perwakilan dari Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI, yaitu melalui program sapi untuk masjid.
Setelah acara tersebut, kami juga akan menerima komitmen dari CSR perusahan untuk pemberdayaan masyarakat di sekitar perusahaan tersebut. Nah, kita sedang membuat perencanaan perinci terkait skema bantuan, pendampingan, serta pembinaan bagi pedagang kecil tersebut.
Apakah hanya sebatas pelatihan kewirausahaan atau bantuan keuangan saja yang dibutuhkan?
Sebenarnya, pertanyaan ini persis yang selama ini kita tanyakan ke beberapa jaringan kita di beberapa kesempatan yang lalu. Apakah kita hanya memberikan pelatihan? Ternyata berdasarkan observasi, kalau cuma itu pengembangan kemandirian ekonomi yang kita tuju tidak akan maksimal. Persoalan di lapangan, setelah mereka mendapat pelatihan, bagaimana memulainya?
Niat ada, waktu banyak, tenaga siap, tapi modal tidak ada, ya nggak jalan juga. Dari situ kita merancang tidak hanya pelatihan kewirausahaan, lebih jauh kami meminta peserta pelatihan membawa proposal wirausaha berbasis masjid. Kemudian, proposal dibahas di panel. Salah satu panelis adalah perwakilan dari yayasan penyandang bantuan.
Jadi, terjadi diskusi langsung program mana saja yang masuk dalam usulan bantuan dan proposal mana yang masih harus disempurnakan? Program yang kita desain nantinya selain pelatihan kewirausahaan dan bantuan keuangan adalah pembinaan baik secara manajemen keuangan maupun pembinaan agamanya. Selanjutnya, dibantu untuk pemasaran dan informasi peluang.
Pembinaan manajemen keuangan penting karena sering kali terjadi salah kelola, modal digunakan untuk keperluan konsumtif pribadi dan akhirnya lupa akan kewajiban. Untuk menjaga kedisiplinan dan akhlak yang baik, kita rencanakan juga adanya pengajian pekanan dan evaluasi ibadah harian untuk meningkatkan pemahaman agama.
Untuk saat ini, apa kendala dalam pengembangan program tersebut?
Program ini memang masih masuk dalam tahap persiapan. Jadi, secara teknis kendala utama berkutat pada persoalan minimnya pemuda remaja yang tertarik untuk berkeringat. Istilah saya, berkorban. Bagaimanapun juga program ini untuk membantu kemandirian secara ekonomi, yang dibidik adalah sektor riil berbasis masjid.
Syarat utama menggerakkan sektor riil adalah dengan keluar keringat. Karena tarikan hedonisme masih terlalu kuat, inilah peran masjid untuk membenahi akhlak pemuda dan remaja. Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah dukungan pendanaan.
Apa yg dilakukan JPRMI untuk ikut serta mengembangkan kemampuan wirausaha para pemuda masjid dan masyarakat sekitar masjid?
Ada beberapa komunitas masyarakat yang sudah digarap oleh temen-temen JPRMI, seperti pedagang kecil, produksi kerajinan tangan, budi daya ikan, dan ternak sapi. Melalui pembinaan manajemen, agama serta pelatihan kewirausahaan dan dukungan pendanaan.
Apakah program ini dilakukan di semua masjid di Indonesia?
Saat ini kita baru fokus pada jaringan kita yang ada di 16 provinsi. Jadi, belum di seluruh Indonesia. Insya Allah, pada 2011 ini, kita targetkan 80 persen pengurus wilayah terbentuk, atau kurang lebih 25 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. ed: ferry kisihandi
Sumber: http://koran.republika.co.id/koran/52/142898/Juni_Supriyanto_Tak_Sebatas_Pelatihan
Koran Republika » Dialog Jumat Hal.3
Jumat, 09 September 2011
JPRMI: Stop Stigma Teroris yang Menyudutkan Islam
Senin, 25/07/2011 11:47 WIB
Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia atau JPRMI menyatakan agar stigma teroris yang dialamatkan ke Islam harus dihentikan. "Stigma teroris yang seakan-akan tidak henti-henti menyudutkan umat Islam harus dihentikan," begitulah yang disampaikan Juni Supriyanto, Sekjen JPRMI Nasional, melalui rilisnya yang disampaikan ke eramuslim.
Selain itu, banyaknya korban pemaksaan ideologi atau pencucian otak yang marak mengatasnamakan agama dan kenakalan remaja terjerat narkoba yang tidak kunjung usai, memperlihatkan kurangnya pemahaman remaja terhadap nilai-nilai Islam.
"Untuk itu, diperlukan sebuah gerakan perubahan. Perubahan itu dimulai dari Masjid sebagai rumah besar umat Islam," ucap Juni kemudian.
Sebagai bagian dari gerakan kampanye kembali ke masjid, JPRMI melakukan sejumlah kegiatan. Antara lain, Karnaval Sambut Ramadhan tanggal 24 Juli.
Karnaval ini berlangsung di Bunderan HI, diisi dengan penyampaikan seruan dan ajakan untuk menjadikan Masjid sebagia pusat rujukan penyelesaian masalah.
Selain itu, agenda lain juga akan dilangsungkan JPRMI.Yaitu, Launching 99 online masjid raya dan penandatangan Dukungan Gerakan Nasional Ayo Ke Masjid yang bertempat di Aula Buya Hamka Masjid Agung Al Azhar tanggal 31 Juli. Serta, workshop entrepreneurship berbasis masjid tanggal 5-7 Agustus bertempat di Masjid BI. mnh

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/nasional/jprmi-stop-stigma-teroris-yang-menyudutkan-islam.htm
Seonggok kemanusiaan terkapar.Siapakah… yang mengaku bertanggung jawab?Bila semua pihak menghindar,biarlah saya yang menanggungnya,semua atau sebagiannya…(Ust. Rahmat Abdullah)
Galeri Komunitas
Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).
Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.
Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.