Monday, 21 May 2012
Home >> Tentang Kami >> Makna Lambang >> Displaying items by tag: jprmi
Displaying items by tag: jprmi
Wednesday, 05 October 2011 17:29

Potensi Ekonomi Besar

Selasa, 04 Oktober 2011 pukul 08:56:00

Nashih Nashrullah

Persoalan sumber daya harus diatasi.

SAM_4090JAKARTA - Potensi ekonomi yang dapat dikembangkan oleh lembaga pendidikan Islam dan lembaga Islam besar, caranya dengan menumbuhkan kemandirian. Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, mengatakan kemandirian dapat diwujudkan dengan kegiatan wirausaha. "Dalam hal ini, perlu contoh," katanya kepada Republika, Senin (3/10).

Menurut dia, lembaga pendidikan yang dikembangkannya selama ini mutlak membutuhkan dana yang besar dan itu mestinya ditopang oleh kekuatan sendiri. Ia bersyukur hal itu berhasil mengembangkan potensi ekonomi yang ada. Saat ini, pesantren ini mengembangkan sebanyak 32 unit usaha di berbagai bidang, mulai dari perdagangan, industri, peternakan, pertanian, sampai perhutanan.

Perdagangan dilakukan dengan mendirikan koperasi dan toko bangunan. Jumlah harta yang diraup dari kegiatan ekonomi itu mencapai Rp 1,5 miliar per tahun. Bahkan, pesantren ini memiliki 260 hektare sawah dan 300 hektare kebun kelapa sawit. Geliat ekonomi pesantren membawa pengaruh positif pada masyarakat sekitar.

Pesantren, jelas Kiai Zarkasyi, mempekerjakan 569 orang dengan bayaran untuk mereka sebesar Rp 382 juta per bulan. Pendiri Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqien, Jonggol, Bogor, Jawa Barat, Muhaimin Iqbal, mengatakan kendala yang kerap dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam untuk meningkatkan kemandirannya ialah rendahnya sumber daya manusia.

Dunia pesantren, misalnya, bisa dibilang belum menguasai dan akrab dengan sektor usaha. Tetapi, hal ini terus diperbaiki dengan menggelar berbagai pelatihan dan pendampingan. Fokusnya tak sebatas pada pengenalan teori, tetapi harus didukung dengan praktik yang meliputi aspek-aspek manajerial, distribusi, dan pemasaran.

Hasil yang dicapai pesantrennya menggembirakan. Usaha yang dibina di lembaganya tak menekankan aspek keuntungan, namun mampu menyedot banyak tenaga kerja. Setidaknya terdapat 80 pekerja internal dan 150 pekerja di luar lokasi yang ikut merasakan manfaat pesantrennya tersebut. Usaha yang jalankan beragam. Ada peternakan kambing, pembudidayaan jamur, dan industri.

Sekjen Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI), Juni Supriyanto, memandang perlunya sinergi lembaga pendidikan Islam untuk memaksimalkan potensi ekonomi tersebut. Terlebih potensi perekonomian umat Islam di Tanah Air luar biasa. Mengingat 80 persen hampir 300 juta penduduk Indonesia ialah Muslim.

JPRMI, katanya, berkomitmen turut mengembangkan wirausaha berbasis masjid. Program itu terealisasi melalui kerja sama dan dukungan sejumlah instansi dan lembaga keuangan mikro Islami, seperti baitulmal atau dana infak, sedekah, dan zakat dari perusahaan. Pengembangan ekonomi itu termasuk bagian dari gerakan nasional JPRMI "Ayo ke Masjid" yang diluncurkan pada Juli 2011 lalu.

Program yang tengah berjalan, antara lain, pembuatan kurma tomat di Jawa Tengah, budidaya ikan di Riau, dan kerajinan tangan di Sumatra Utara. Ke depan, target lokasi akan ditambah. Minimal 2012 mendatang penetrasi bisa tercapai hingga 80 persen dari 33 provinsi. ed: ferry kisihandi

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/14/144572/Potensi_Ekonomi_Besar

Published in Liputan Media
Saturday, 01 October 2011 18:28

Telkomsel Dukung Gerakan Ayo ke Masjid

Telkomsel Dukung Gerakan Ayo ke Masjid

serah_terima-omrSetelah terpilih sebagai Ketua Umum Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI), Otong Somantri langsung membuat gebrakan dengan membuat program, "Gerakan Nasional Ayo ke Masjid." Ini sebagai upaya mengajak pemuda dan remaja untuk kembali ke masjid. Gerakan ini sudah dilaunching sehari sebelum Ramadhan yang lalu di Masjid Al-Azhar.

“Gerakan ini berfungsi mengajak masyarakat untuk mejadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat. Apalagi saat ini banyak remaja masjid yang sudah tidak aktif lagi dan anak mudanya meninggalkan masjid. Oleh karena itu kita mengajak mereka untuk menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat,” katanya.

Setelah terpilih sebagai Ketua Umum Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI), Otong Somantri langsung membuat gebrakan dengan membuat program, “Gerakan Nasional Ayo ke Masjid.” Ini sebagai upaya mengajak pemuda dan remaja untuk kembali ke masjid. Gerakan ini sudah dilaunching sehari sebelum Ramadhan yang lalu di Masjid Al-Azhar.

Jika masjid bisa dijadikan sebagai kebutuhan bagi umat, ia yakin bukan hanya remaja dan pemuda, tetapi juga anak-anak dan orangtua akan berbondong-bondong bergegas pergi ke masjid. Gerakan Nasional Ayo ke Masjid menurutnya, ditopang dengan 3 pilar: pilar pendidikan, pilar kesehatan, dan pilar ekonomi.

Program kegiatan ini ternyata mendapat dukungan yang besar dari operator Telkomsel berupa online masjid raya. “Kita alhamdulillah mendapat amanah mengelola 99 masjid raya di seluruh Indonesia. Pihak Telkomsel memberikan pada setiap masjid raya TV dan komputer, yang dapat nyambung ke internet. Kita harapkan aktivitas 99 masjid raya bisa terpantau dengan baik, seperti kegiatan Masjhid Sunda Kelapa dan Al-Azhar yang padat kegiatannya dapat terpantau oleh masjid lainnya,” tambahnya.

Dengan terhubungnya kegiatan masjid yang ada di seluruh Indonesia, maka Masjid Baiturrahim yang ada di Aceh akan mengetahui kegiatan yang ada di Masjid Sunda Kelapa atau Al-Azhar yang ada di Jakarta. Demikian pula kegiatan Masjid Umar bin Khattab yang ada di Bali akan diketahui oleh jamaah masjid yang ada di tempat lain. Ternyata tidak terbayangkan, ternyata masjid Umar bin Khattab di Bali banyak kegiatnnya dan remaja masjidnya aktif.

1317442490977552062

Ketua Umum JPRMI, Otong Somantri.

Dengan 3 pilar tersebut ia mengharapkan masyarakat dapat terpenuhi kebutuhannya di masjid. “kita sudah berhasil membina anak-anak kita usia TKA dan TPA. Tapi kita mendapat masalah setelah anak-anak TPA selesai diwisuda, maka selesai pula kegiatannya. Sedangkan kelanjutan dari TPA sampai saat ini belum ada. Akhirnya mereka tinggal dan berkeluyuran di jalanan,” ungkapnya.

Kiini untuk menjawab permasalahan tersebut, JPRMI mendirikan sekolah berbasis masjid sebagai kelanjutan TKA dan TPA. Jadi, guru dan muridnya sama. Hanya kurikulumnya yang berbeda. Kurikulumya sengaja dibuat khusus untuk kebutuhan remaja dan gaya remaja. Otong mengharapkan, hal ini dapat memenuhi kebutuhan pendidikan remaja.

JPRMI menurutnya, sudah mendapat dukungan dari Baitul Mal BRI dan sebentar lagi Bank Muamalat dan Telkom. Mereka berkomitmen untuk memberikan beasiswa terhadap anggota JPRMI. Nama beasiswanya Kader Surau. Mereka yang aktif di remaja masjid dan tidak punya biaya untuk SMP. SMA, dan perguruan tinggi. Beasiswa diberikan untuk uang masuk sekolah dan uang bulanannya.

Yang menarik, katanya, JPRMI mendapat tawaran dari BRI untuk memberikan beasiswa S-1. Kalau ada kader surau yang telah mendapat rekomendasi dari JPRMI, mereka bisa kuliah gratis di Perbankan Islam sampai biaya hidup. Juga dapat tawaran untuk tenaga bidan. Kalau ada satu daerah yang tidak ada bidannya, kemudian ada aktivitis remaja masjid yang berniat menjadi bidan, JPRMI sudah mendapat dukungan dari BRI untuk menyekolahkan remaja tersebut ke sekolah kebidanan. Tapi dengan persyaratan setelah lulus, mereka harus kembali ke daerahnya untuk menjadi bidan.

Kedua, pilar kesehatan. Saat ini JPRMI sedang merintis klinik masjid. Pendirian klinik masjid menurutnya, akan difokuskan pada 99 masjid raya. Jadi, masjid raya yang sudah online itu diwajibkan mendata kaum dhuafa, yang belum tercatat dalam program Gakin, yang berobat gratis dari pemerintah. Ia yakin banyak umat Islam yang belum tercover oleh program berobat gratis dari pemerintah. Mereka yang sudah didata, didaftarkan ke BRI. Nanti pihak BRI akan melakukan verifikasi terhadap mereka.

Yang telah lolos verifikasi, nantinya mereka gratis kalau berobat ke Puskesmas atau klinik setempat. Nantinya DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) dulu yang mengeluarkan biaya. Kemudian pihak BRI akan mengganti biaya tersebut. “Itu pilihan pertama kita. Pilihan kedua, kita akan mendirikan klinik masjid. Kita akan mengadakan perawat dan dokter di klinik masjid setelah jelas kontraknya dengan BRI. Kaum dhuafa nantinya gratis berobat,” tuturnya.

Ketiga, pilar ekonomi. Belum lama ini pihaknya mengadakan whork shop wirausaha berbasis masjid. Para remaja masjid dipacu kemampuannya dengan memberikan training, bahkan mereka diberikan modal bergulir. Dana tersebut berasal dari BRI dan Telkomsel. Dari BRI sudah disepakati.

Yang sudah berjalan, menurut Otong, pertama, pedagang keliling di daerah Srengseng Sawah Jakarta Selatan. Kedua, kurma dari tomat kering di Boyolali, Jawa tengah. Ketiga, pihaknya tengah mengajukan budidaya ikan air tawar di Depok Jawa Barat. Pihak Bank Indonesia (BI) juga memminta JPRMI untuk mengelola 50 pedagang keliling. Masing-masing pedagang akan diberikan dana antara Rp 4 juta – Rp 5 juta.

Ini pilar ekonomi yang akan ditawarkan ke masyarakat. Penawaran modal tersebut menurut Otong, tidak diberikan kepada mereka yang baru berusaha. Yang berhak memperoleh dana untuk modal usaha adalah mereka yang usahanya sudah berjalan. Palaing tidak sudah 2 – 3 tahun sudah berjalan usahanya, tapi mereka masih butuh penambahan modal. Dengan memberikkan tambahan modal sekitar Rp 10 jutaan diharapkan posisi mereka naik dari mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat).

Bagi remaja masjid yang masih pengangguran diwajibkan untuk magang. Seperti di Boyolali, pihaknya membantu usaha korma dari tomat kering. Kegiatan tersebut sudah berjalan. Ia harapkan sekitar 3 orang remaja masjid yang belum punya pekerjaan magang di sana. Kalau yang magang ternyata layak diberikan bantuan, mereka akan menjadi sasaran level kedua.

Sumber:http://sosok.kompasiana.com/2011/10/01/telkomsel-dukung-gerakan-ayo-ke-masjid/

Published in Liputan Media
Monday, 19 September 2011 13:44

OMR Mendorong Ayo Ke Masjid

Online Masjid Raya mendorong Gerakan Nasional Ayo Ke Masjid. 

jakartapost

link internal Video

Perkembangan teknologi informasi mempengaruhi segala bidang, termasuk tempat ibadah. Salah satunya masjid. Melalui program online masjid raya, informasi masjid disediakan dalam jaringan digital online 24 jam. Tujuannya, untuk menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas umat dan membangun media komunikasi antar masjid secara digital berdasar ICT. Program online dibuat untuk menghubungan masjid besar di seluruh Indonesia sekaligus membawa aktivitas dakwah Islam berbasis digital.

Konten dikelola mandiri jaringan masjid. Dengan begitu, informasi bisa disesuaikan kebutuhan jamah setempat. Program online melibatkan MTT selaku administrator, dan Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia yang melakukan pemutakhiran isi website www.onlinemasjidraya.com. Di dalamnya dimuat berbagai informasi tentang masjid raya, termasuk jadwal salat, khatib jumat, profile masjid, berita, dan jadwal lain yang disesuaikan kebutuhan. Semua informasi itu dapat disimak jamaah lewat layar teve LED 32 inch di halaman utama masjid raya.

Sumber:http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2011/09/18/10099/212/Program-Online-Masjid-Raya

Published in Liputan Media
Friday, 09 September 2011 20:45

Juni Supriyanto, Tak Sebatas Pelatihan

republika-dialog_jumat_20110909_hal_3

wawancara

Mewujudkan kemandirian ekonomi remaja dan pemuda masjid serta membangun ekonomi berbasis masjid diyakini sebuah rencana besar yang diharapkan berjalan mulus. Sekjen Jaringan Remaja dan Pemuda Masjid Indonesia (JPRMI), Juni Supriyanto, mengatakan JPRMI dengan "Gerakan Nasional Ayo ke Masjid" mengarah ke sana. Merintis kewirausahaan dan kemandirian ekonomi menjadi satu pilarnya.

Belum lama ini, JPRMI memberikan pelatihan kewirausahaan kepada remaja dan pemuda masjid dari perwakilannya di puluhan provinsi di Indonesia. Ia mengatakan, ternyata pelatihan saja tak cukup. Butuh hal pembinaan lain untuk mewujudkan impian besar itu. Misalnya, modal dan pembinaan manajemen keuangan.

"Secara teknis juga, tantangan lainnya adalah masih minimnya remaja dan pemuda yang tertarik untuk berkeringat. Kewirausahaan ini mencakup sektor riil yang butuh kerja keras," katanya kepada wartawan Republika, Damanhuri Zuhri, Selasa (6/9). Juni mengungkapkan, banyak rumusan bagaimana membina pemuda masjid. Berikut petikannya.

Apa pentingnya membina para pemuda masjid, pengurus masjid, dan masyarakat sekitar masjid untuk mengembangkan ekonomi mandiri atau kewirausahaan?
Dalam membahas urgensi membina para pemuda masjid dan masyarakat sekitar masjid, saya mengambil tiga kata kunci, yaitu remaja atau pemuda, masjid, dan ekonomi. Remaja atau pemuda dalam struktur demografi penduduk Indonesia menduduki porsi yang besar atau kurang lebih 37,2 persen dari total penduduk Indonesia.

Selain kuantitas, mereka mempunyai ciri tersendiri, yaitu pemikirannya semangat dan penuh kreativitas. Ini pula yang membedakan mereka dengan kelompok usia tua yang cenderung status quo. Dari kondisi seperti itu, mereka cocok dibina sebagai agen perubahan. Kata kunci kedua adalah masjid yang belum dapat digunakan meningkatkan syiar Islam dalam membangun peradaban.

Fakta penting yang terjadi adalah masjid dibangun sedemikian banyak. Sayangnya belum mampu mengantarkan masyarakat Indonesia seperti para sahabat Rasulullah. Menurut rekapitulasi masjid dan mushala di DKI Jakarta, jumlah masjid yang berada di wilayah DKI sebanyak 2.831 unit dan 5.661 mushala.

Sedangkan di Indonesia, diperkirakan ada 700 ribu masjid. Kendala terbesarnya, masjid baru menjadi bangunan megah, tetapi sepi dari roh umat, kosong, dan hanya untuk kegiatan-kegiatan ibadah mahdah. Kata kunci ketiga adalah ekonomi. Persoalan mendasar dari remaja atau pemuda bangsa Indonesia adalah pengangguran.

Data Biro Pusat Statistik 2007 menyebutkan, jumlah pengangguran berdasarkan tingkat pendidikan mencapai 10.011.142 orang. Pengangguran lulusan SMA mencapai 4.070.553 atau 40,6 persen. Sementara pengangguran lulusan diploma mencapai 397.191 orang atau sekitar 3,9 persen dan pengangguran yang sarjana mencapai 566.588 orang atau sekitar 5,6 persen.

Jika ketiga kelompok level pendidikan ini digabung, jumlah pengangguran di kalangan pemuda mencapai 50,3 persen. Maka, diperlukan konsep pembangunan pemuda yang terencana.

Apa saja bentuknya?
Pembangunan pemuda harus dititikberatkan pada persiapan mereka menghadapi ketidakpastian masa depan, yang mencakup sisi fisik tetapi juga membangun karakter dan kapasitas mereka berupa kompetensi, pendidikan, pelatihan, dan keterampilan. Dengan melihat itu semua, kita sepakat membina remaja atau pemuda masjid dengan kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan adalah penting.

Apa yang ingin dicapai dari upaya ini?
Sebenarnya, tujuan kita sederhana, yaitu ingin memakmurkan masjid. Hal ini sudah kita canangkan melalui "Gerakan Nasional Ayo ke Masjid". Salah satu pilar yang kita usung adalah fokus pada ekonomi. Seperti kita ketahui, jumlah penduduk kita yang lebih dari 220 juta jiwa merupakan pasar yang sangat besar. Indonesia saat ini masuk dalam kelompok G-20. Itu berarti secara ekonomi sangat menjanjikan.

Salah satu faktor pendukungnya adalah jumlah kelompok usia produktif yang besar. Nah, Indonesia sampai dengan 2030 sedang menikmati masa-masa tersebut. Kelompok usia produktif mendominasi piramida demografi penduduk Indonesia. Inilah salah satu golden era untuk mendorong Indonesia menjadi negara besar dari sisi ekonomi.

Mempertimbangkan potensi besar yang terdapat pada diri remaja atau pemuda serta potensi masjid sebagai pusat peradaban umat Islam, dapat disimpulkan ini merupakan kekuatan besar yang menunggu untuk dikembangkan dalam sebuah program pembangunan remaja atau pemuda masjid berbasis kemandirian ekonomi.

Perlukah pembinaan dilakukan di seluruh masjid di Indonesia dan mitra paling penting siapa?
Jika ditanya perlu atau tidak, semua pasti menjawab perlu. Hanya saja, kita masuk ke tahap berikutnya, bagaimana mengimplementasikan impian tersebut. Tahap awal, kita terus melakukan konsolidasi internal dan eksternal. Internal adalah untuk menghimpun organisasi pemuda remaja masjid yang siap untuk menjadi bagian dari rencana besar ini karena JPRMI tidak akan bisa bergerak sendiri.

Kemudian, konsolidasi eksternal kita kuatkan yang tujuannya mencari mitra serta pendukung proyek besar ini. Mitra tak sebatas dari lembaga sosial, tetapi juga menjangkau kegiatan sosial (CSR) perusahaan. Saat ini sudah ada beberapa komitmen baik lisan maupun melalui kesepakatan untuk mendukung kegiatan ini baik dari individu maupun lembaga.

Kegiatan yang kita lakukan, ada pelatihan kewirausahaan yang mengundang perwakilan dari provinsi di seluruh Indonesia. Dalam pelatihan tersebut juga terjadi kesepakatan-kesepakatan program antara perwakilan wilayah dan perwakilan dari Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI, yaitu melalui program sapi untuk masjid.

Setelah acara tersebut, kami juga akan menerima komitmen dari CSR perusahan untuk pemberdayaan masyarakat di sekitar perusahaan tersebut. Nah, kita sedang membuat perencanaan perinci terkait skema bantuan, pendampingan, serta pembinaan bagi pedagang kecil tersebut.

Apakah hanya sebatas pelatihan kewirausahaan atau bantuan keuangan saja yang dibutuhkan?
Sebenarnya, pertanyaan ini persis yang selama ini kita tanyakan ke beberapa jaringan kita di beberapa kesempatan yang lalu. Apakah kita hanya memberikan pelatihan? Ternyata berdasarkan observasi, kalau cuma itu pengembangan kemandirian ekonomi yang kita tuju tidak akan maksimal. Persoalan di lapangan, setelah mereka mendapat pelatihan, bagaimana memulainya?

Niat ada, waktu banyak, tenaga siap, tapi modal tidak ada, ya nggak jalan juga. Dari situ kita merancang tidak hanya pelatihan kewirausahaan, lebih jauh kami meminta peserta pelatihan membawa proposal wirausaha berbasis masjid. Kemudian, proposal dibahas di panel. Salah satu panelis adalah perwakilan dari yayasan penyandang bantuan.

Jadi, terjadi diskusi langsung program mana saja yang masuk dalam usulan bantuan dan proposal mana yang masih harus disempurnakan? Program yang kita desain nantinya selain pelatihan kewirausahaan dan bantuan keuangan adalah pembinaan baik secara manajemen keuangan maupun pembinaan agamanya. Selanjutnya, dibantu untuk pemasaran dan informasi peluang.

Pembinaan manajemen keuangan penting karena sering kali terjadi salah kelola, modal digunakan untuk keperluan konsumtif pribadi dan akhirnya lupa akan kewajiban. Untuk menjaga kedisiplinan dan akhlak yang baik, kita rencanakan juga adanya pengajian pekanan dan evaluasi ibadah harian untuk meningkatkan pemahaman agama.

Untuk saat ini, apa kendala dalam pengembangan program tersebut?
Program ini memang masih masuk dalam tahap persiapan. Jadi, secara teknis kendala utama berkutat pada persoalan minimnya pemuda remaja yang tertarik untuk berkeringat. Istilah saya, berkorban. Bagaimanapun juga program ini untuk membantu kemandirian secara ekonomi, yang dibidik adalah sektor riil berbasis masjid.

Syarat utama menggerakkan sektor riil adalah dengan keluar keringat. Karena tarikan hedonisme masih terlalu kuat, inilah peran masjid untuk membenahi akhlak pemuda dan remaja. Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah dukungan pendanaan.

Apa yg dilakukan JPRMI untuk ikut serta mengembangkan kemampuan wirausaha para pemuda masjid dan masyarakat sekitar masjid?
Ada beberapa komunitas masyarakat yang sudah digarap oleh temen-temen JPRMI, seperti pedagang kecil, produksi kerajinan tangan, budi daya ikan, dan ternak sapi. Melalui pembinaan manajemen, agama serta pelatihan kewirausahaan dan dukungan pendanaan.

Apakah program ini dilakukan di semua masjid di Indonesia?
Saat ini kita baru fokus pada jaringan kita yang ada di 16 provinsi. Jadi, belum di seluruh Indonesia. Insya Allah, pada 2011 ini, kita targetkan 80 persen pengurus wilayah terbentuk, atau kurang lebih 25 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. ed: ferry kisihandi

Sumber: http://koran.republika.co.id/koran/52/142898/Juni_Supriyanto_Tak_Sebatas_Pelatihan

Koran Republika » Dialog Jumat Hal.3

Jumat, 09 September 2011

Published in Liputan Media
Saturday, 13 August 2011 18:44

JPRMI Kembangkan Kewirausahaan

Jumat, 12 Agustus 2011 pukul 16:08:00

workshop Entrepreneur berbasis masjidMembangun ekonomi umat berbasis masjid. Ini merupakan salah satu tujuan Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) merangkul para pemuda dan remaja masjid dalam seminar dan workshop "Entrepreneur Berbasis Masjid" di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, pada 5-7 Agustus 2011 lalu.

Sekjen JPRMI Juni Supriyanto mengatakan, seminar diikuti 75 orang yang merupakan perwakilan 13 wilayah JPRMI serta remaja dan pemuda masjid di wilayah Jakarta. Perwakilan itu, di antaranya dari Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Lampung, DKI Jakarta, Jateng, Jatim, dan Jabar.

Seminar mengenai enterpreneurship atau kewirausahaan ini adalah bagian dari Gerakan Nasional Ayo ke Masjid. "Kita ingin mereka mampu mengembangkan bisnis berbasis masjid," katanya dalam keterangannya, Senin (8/8). Dalam gerakan nasional itu, JPRMI fokus pada pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Valentino Dinsi dari Labschool, Ketua Umum Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) Eman Sukirman, General Manager Yayasan Baitul Maal BRI Nasir Tajang, dan motivator Zainal Abidin menjadi pembicara. Mereka menyampaikan pengalaman dan masukan mengenai kewirausahaan.

Ketua Umum JPRMI Otong Somantri mengatakan, seharusnya pengurus masjid mencari sumber dana selain bantuan. Sekarang saatnya membangkitkan kewirausahaan khususnya untuk jamaah muda. Jadi, sumber pendanaan bisa diperoleh dari usaha mandiri.

"Kita harus tanamkan jiwa kewirausahaan meskipun hasilnya mungkin baru dirasakan tujuh tahun mendatang. Ketika anak-anak muda menjadi pengurus masjid, kita harapkan ekonomi berbasis masjid tumbuh dengan baik," kata Otong, yang hadir dalam seminar.

Menurut Nasir Tadjang, untuk menumbuhkan perekonomian di masjid harus dimulai dari pembekalan keterampilan sumber daya yang mengelola dan aktif di masjid. Jenis usaha yang dapat diterapkan, misalnya, pendirian taman pendidikan Alquran.

Sumber pendanaannya diperoleh dari iuran para siswa. Artinya, jelas Nasir, dari penghasilan yang didapat, 80 persennya untuk para pengelola dan sisanya diberikan ke masjid. "Tapi, jangan menutup untuk golongan yang tidak untuk mampu untuk belajar di tempat tersebut," imbuhnya.

Dengan program yang sudah dikembangkannya, YBM BRI membantu sumber pendanaan mandiri bagi masjid-masjid di Indonesia. YBM memberi satu ekor sapi untuk diternak kepada masjid yang terpilih. Setelah besar dan ada hasilnya, sebanyak 80 persen untuk pemeliharaan ternak dan 20 persen untuk masjid.

Dibutuhkan sekitar empat juta pengusaha untuk memajukan perekonomian bangsa. Eman Sukirman mengungkapkan, kini di Indonesia baru ada 0,18 persen saja pengusaha. Upaya pembinaan terhadap pemuda dan remaja masjid memungkinkan adanya pengusaha-pengusaha Muslim baru.

Di Indonesia, ada sekitar 700 ribu masjid. Seandainya setiap dari setiap masjid ada satu pengusaha Muslim, maka akan ada 700 ribu pengusaha yang mendukung perekonomian negara. kiriman jprmi ed: ferry kisihandi

Sumber: Koran Republika 12 Agustus 2011, Dialog Jumat Hal 8 

Published in Liputan Media
Thursday, 11 August 2011 13:26

SHL

"Ketika Anda membenci orang lain, maka diri andalah yang akan menjadi tidak bahagia. Tetapi ketika anda mencintai orang lain, semua orang menjadi bahagia" 

(Satria Hadi Lubis)

Published in Quote
Wednesday, 10 August 2011 08:50

Bisakah Menjadi Jamaah Mandiri

Palmerah, Warta Kota

ybmbri-jprmiMasjid sebagai tempat ibadah kebersihan, kenyamanan, dan keindahannya, agar kesuciannya terjaga. Namun untuk memujudkan itu tentu perlu biaya operasional. Akan tetapi, apakah dana operasional itu harus selalu menunggu datangnya dana bantuan..

Ketua Umum Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia, Otong Somantri, dalam acara Pelatihan Entrepreuner Berbasis Masjid di Masjid Baitul Ihsan-Bank Indonesia, Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (6/8) sore, mengatakan, sudah seharusnya pengurus masjid mencai sumber dana lain selain dari menunggu dana bantuan. Pelatihan itu bagian dari agenda Ramadan Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia

Sekarang saatnya untuk membangkitkan entrepreunership, khususnya untuk jamaah muda. Jadi sumber pendanaan bisa diperoleh dari usaha mandiri. "Kita harus tanamkan jiwa entrepreneurship yang ada di anak muda sekarang, meskipun hasilnya baru bisa kita dapat mungkin tujuh tahun ke depan. Namun kita harapkan ketika anak-anak muda ini menjadi pengurus masjid nantinya. Kita harapkan ekonomi bisa tumbuh di masjid," jelas Otong.

Sementara Ketua Harian Yayasan Baitul Maal BRI, Nasir Tadjang yang juga menjadi pembicara, mengatakan bahwa untuk bisa menumbuhkan perekonomian di masjid, harus dimulai dari pembekalan skill dari para SDM-nya.

Sebagai contoh, menurut Nasir, jenis usaha bisa diterapkan misalkan dengan mengadakan Taman Pendidikan Al-quran di masjid. Dari kegiatan tersebut bisa dapat sumber pendanaan dari iuran para siswanya. "Artinya dari penghasilan tersebut 80 persen bisa untuk para pengelolanya, dan 20 persen bisa untuk masjid. Tapi jangan menutup untuk golongan yang tidak untuk mampu untuk belajar di tempat tersebut, Mereka bisa tetap mengikuti pendidikan yang nantinya biaya bisa kita carikan beasiswa," kata Nasir.

Menurut Nasir, saat ini Yayasan Baitul Maal BRI melalui programnya telah berhasil memberikan sumber pendanaan kepada masjid-masjid di Indonesia. "Dalam program tersebut kita kasih satu ekor sapi kepada sebuah masjid untuk diternak, nanti hasilnya ketika sudah ada yang dijual, sebesar 80 persen untuk pemelihara ternak, dan 20 persen untuk masjid, jadi masjid bisa punya sumber pendanaan sendiri," ujarnya.

Yayan, perwakilan dari Masjid An Nurjanah, Majalengka, yang hadir dalam pelatihan tersebut mengatakan bahwa dirinya bersama teman-temannya telah memprogramkan sebuah jenis usaha di bidang peternakan lele. Sementara, Samsul Rizal, Ketua JPRMI Aceh, mengatakan bahwa peluang usaha yang bisa dikembangkan di daerahnya adalah dari bidang kesehatan dengan obat-oabatan herbal, akupunktur, dan bekam. (m6)

Sumber: http://wartakota.co.id/detil/berita/54337/Bisakah-Menjadi-Jamaah-Mandiri

Published in Liputan Media
Monday, 01 August 2011 12:21

SBM solusi pendidikan alternatif

launching-2Jakarta, Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) menilai maraknya aksi tawuran antar pemuda akhir-akhir ini salah satunya disebabkan terputusnya upaya pembinaan kerohanian Islam.

"Ketika tahun 1992 tawuran ramai, kemudian ketika tahun 1996 banyak pembinaan di kerohanian Islam dilakukan. Waktu itu dari Pemda DKI tawuran mereda, 2004-2006 pembinaan selesai tawuran ramai lagi," papar Ketua Umum JPRMI, Otong Sumantri, kepada media di Jakarta, Minggu (31/7/2011).

Otong mendapati kenyataan bahwa sebagian besar pemuda yang terlibat tawuran di masa kecilnya pernah mengenyam Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA).

Sayang di usia yang belum sepenuhnya matang, kata Otong, pembinaan kerohanian Islam tersebut harus berakhir. Padahal idealnya, pembinaan ini terus mengawal pribadi si anak sampai dirinya cukup dewasa.

"Pembinaan ini tidak boleh terputus, sampai dia bisa menentukan arah hidupnya sendiri," tegasnya.

Jika tidak, terang Otong, pembinaan yang terputus di fase anak yang belum matang ini bisa berdampak menyerang balik si anak.

Setelah lulus, lanjutnya, si anak akan sulit kembali ke TPA karena sudah dilabel lulus TPA. Hal ini diperparah jika si anak tidak memiliki keluarga yang bisa jadi tempat yang nyaman baginya.

Anak yang bingung kemana dia harus menuju dan berlabuh pada lingkungan di sekitarnya, di mana ada pengaruh komunitas teman sebaya yang cukup kuat di sana. Dari sanalah, anak mungkin mulai belajar bagaimana 'turun ke jalan'.

"Itulah yang jadi guru mereka seterusnya," ujarnya.

JPRMI sendiri, kata Otong, tengah berupaya melanjutkan kembali pembinaan kerohanian Islam di kalangan pemuda. Di antaranya, dengan membuat Sekolah Berbasis Masjid (SBM).

"Itu kan sekolah pasca-TPA sampai usia SMA, sehingga yang seperti itu selesai," katanya.

Sekolah berbasis masjid ini, lanjutnya, sudah dijalankan di beberapa lokasi di Jakarta, seperti di Sunda Kelapa dan masjid Cinere Depok. Selain itu, Otong juga mengimbau warga masyarakat agar menggiatkan kembali kegiatan remaja masjid di daerah, utamanya yang rawan tawuran.

"Jika pembinaan tersebut berjalan, itu akan hilang sendiri. Kita akan optimalkan untuk jadi fasilitator," terangnya. 

http://www.sapujagat.grandong.com/2011/07/jaringan-pemuda-dan-remaja-masjid.html

Published in SBM
Monday, 01 August 2011 11:44

Telkomsel Luncurkan Online Masjid


launching-pelitaone

Jakarta, PelitaOnline -- MENYAMBUT bulan suci Ramadan 1432 H, PT Telkomsel menghadirkan program Online Masjid Raya (OMR). Program ini menghubungkan komunikasi di 99 masjid agung atau masjid raya di seluruh Indonesia.

Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) menggelar peluncuran Gerakan Nasional 'Ayo Ke Masjid'. Gerakan ini menjadi starting point untuk memakmurkan masjid.

Acara peluncuran dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel Herfini Haryono,

Ketua JPRMI Nasional Otong Somantri, serta Ustad Yusuf Mansyur.

Online Masjid Raya menjadi program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mengelola alur informasi antarmasjid melalui ranah digital.

"Telkomsel berusaha mendorong peningkatan pemahaman dan pengetahuan umat tentang informasi ke-Islaman. Konten informasi akan dikelola secara mandiri oleh jaringan masjid, karenanya informasi yang disajikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan jemaah setempat," ujar

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel, Herfini Haryono, saat Peluncuran Gerakan Nasional 'Ayo Ke Masjid' di Al-Azhar, Jakarta, Minggu (31/7).

Pada tahap awal, jelasnya, masjid-masjid yang akan di-online-kan adalah masjid agung di Pulau Jawa.

Kemudian menyusul masjid raya di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Program ini juga akan melibatkan Majelis Taqlim Telkomsel (MTT) sebagai administrator sistem online dan Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI)

yang akan melakukan pemutakhiran konten informasi Islami.

Konten-konten yang akan dikelola di antaranya adalah, jadwal shalat, jadwal khatib jumat, kegiatan-kegiatan masjid, dan informasi internal lain.

Tata kelola pemutakhiran dan pengunggahan informasi internal dilakukan oleh pengurus dan remaja masjid setempat.

Aplikasi ini juga bisa digunakan sebagai media database yang bisa difungsikan sebagai pendataan secara real time mengenai jumlah anak yatim kaum fakir miskin dan kalangan dhuafa di sekitar masjid, sehingga memudahkan lembaga amil zakat untuk menyalurkan bantuan karena datanya akurat.

(Arief Manurung/Dian)

http://www.pelitaonline.com/read/dunia-islam/nasional/20/4910/telkomsel-luncurkan-online-masjid/

Published in Liputan Media
Monday, 01 August 2011 11:38

Program "Online" Masjid Raya

Ahad, 31 Juli 2011

launching-3Hidayatullah.com—Program "Online" Masjid Raya (OMR) yang diluncurkan salah satu operator seluler akan mengkoneksikan masjid-masjid besar dari seluruh Indonesia. Target masjid yang akan di-online-kan melalui program ini mencapai 99 Masjid Raya dan Masjid Agung se-tanah air. Tahap awalnya akan dilaksanakan untuk Pulau Jawa, menyusul kemudian ke wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

OMR yang digarap Telkomsel menggandeng Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) merupakan inovasi dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1432 H, sekaligus membawa berbagai aktifitas syi'ar Islam ke dalam jaringan dakwah digital.

Menteri Komunikasi dan Informasi RI, Tifatul Sembiring yang didaulat meresmikan acara itu sangat mendukung OMR. Program ini, baginya, luar biasa memberikan dampak yang baik, meski belum menjangkau keseluruhan masjid di Indonesia yang begitu banyak.

Di samping itu, Tifatul mengimbau perlunya pemanfaatan internet untuk hal-hal positif. Sebab berbagai informasi yang diterima ada yang benar, ada pula yang salah. Di sinilah perlunya check and recheck, sehingga yang terpenting dalam program tersebut adalah kontennya.

"Apalagi diawali di bulan Ramadhan ini," ujar Tifatul.

Menteri dari salah satu partai Islam itu juga berharap dengan diluncurkannya OMR, remaja masjid tidak lagi diidentikan negatif.

"Jangan sampai disangka anak-anak remaja masjid itu kuper (kurang pergaulan.red). Tidak!," tegasnya di depan wartawan selepas acara di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, Ahad (31/7).

Karenanya, Tifatul menganggap koneksi online antar masjid ini cukup menarik untuk pembinaan remaja. Saat ini bangsa Indonesia, dalihnya, sedang mengalami krisis eksistensi identitas akibat banyaknya pengaruh-pengaruh yang datang dari luar.

launching-2

Adapun konten yang akan dikelola dalam OMR meliputi informasi internal masjid yang di antaranya berisi jadwal shalat, jadwal khatib Jum'at, jadwal kegiatan masjid dan informasi lain. Program ini juga merupakan bentuk dukungan Telkomsel terhadap Gerakan Nasional Ayo Ke Masjid yang digadang JPRMI. Sebelumnya JPRMI sukses menggelar karnaval sambut Ramadhan di Jakarta.*

Rep: Muh. Abdus Syakur

Red: Syaiful Irwan

http://hidayatullah.com/read/18250/31/07/2011/menkominfo:-remaja-masjid-tidak-identik-dengan-negatif.html

Published in Liputan Media
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 3
Joomla visitor tracking and live stats

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.