Monday, 21 May 2012
Home >> Tentang Kami >> Visi Misi >> Displaying items by tag: masjid
Displaying items by tag: masjid
Monday, 19 September 2011 13:44

OMR Mendorong Ayo Ke Masjid

Online Masjid Raya mendorong Gerakan Nasional Ayo Ke Masjid. 

jakartapost

link internal Video

Perkembangan teknologi informasi mempengaruhi segala bidang, termasuk tempat ibadah. Salah satunya masjid. Melalui program online masjid raya, informasi masjid disediakan dalam jaringan digital online 24 jam. Tujuannya, untuk menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas umat dan membangun media komunikasi antar masjid secara digital berdasar ICT. Program online dibuat untuk menghubungan masjid besar di seluruh Indonesia sekaligus membawa aktivitas dakwah Islam berbasis digital.

Konten dikelola mandiri jaringan masjid. Dengan begitu, informasi bisa disesuaikan kebutuhan jamah setempat. Program online melibatkan MTT selaku administrator, dan Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia yang melakukan pemutakhiran isi website www.onlinemasjidraya.com. Di dalamnya dimuat berbagai informasi tentang masjid raya, termasuk jadwal salat, khatib jumat, profile masjid, berita, dan jadwal lain yang disesuaikan kebutuhan. Semua informasi itu dapat disimak jamaah lewat layar teve LED 32 inch di halaman utama masjid raya.

Sumber:http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2011/09/18/10099/212/Program-Online-Masjid-Raya

Published in Liputan Media
Friday, 09 September 2011 20:45

Juni Supriyanto, Tak Sebatas Pelatihan

republika-dialog_jumat_20110909_hal_3

wawancara

Mewujudkan kemandirian ekonomi remaja dan pemuda masjid serta membangun ekonomi berbasis masjid diyakini sebuah rencana besar yang diharapkan berjalan mulus. Sekjen Jaringan Remaja dan Pemuda Masjid Indonesia (JPRMI), Juni Supriyanto, mengatakan JPRMI dengan "Gerakan Nasional Ayo ke Masjid" mengarah ke sana. Merintis kewirausahaan dan kemandirian ekonomi menjadi satu pilarnya.

Belum lama ini, JPRMI memberikan pelatihan kewirausahaan kepada remaja dan pemuda masjid dari perwakilannya di puluhan provinsi di Indonesia. Ia mengatakan, ternyata pelatihan saja tak cukup. Butuh hal pembinaan lain untuk mewujudkan impian besar itu. Misalnya, modal dan pembinaan manajemen keuangan.

"Secara teknis juga, tantangan lainnya adalah masih minimnya remaja dan pemuda yang tertarik untuk berkeringat. Kewirausahaan ini mencakup sektor riil yang butuh kerja keras," katanya kepada wartawan Republika, Damanhuri Zuhri, Selasa (6/9). Juni mengungkapkan, banyak rumusan bagaimana membina pemuda masjid. Berikut petikannya.

Apa pentingnya membina para pemuda masjid, pengurus masjid, dan masyarakat sekitar masjid untuk mengembangkan ekonomi mandiri atau kewirausahaan?
Dalam membahas urgensi membina para pemuda masjid dan masyarakat sekitar masjid, saya mengambil tiga kata kunci, yaitu remaja atau pemuda, masjid, dan ekonomi. Remaja atau pemuda dalam struktur demografi penduduk Indonesia menduduki porsi yang besar atau kurang lebih 37,2 persen dari total penduduk Indonesia.

Selain kuantitas, mereka mempunyai ciri tersendiri, yaitu pemikirannya semangat dan penuh kreativitas. Ini pula yang membedakan mereka dengan kelompok usia tua yang cenderung status quo. Dari kondisi seperti itu, mereka cocok dibina sebagai agen perubahan. Kata kunci kedua adalah masjid yang belum dapat digunakan meningkatkan syiar Islam dalam membangun peradaban.

Fakta penting yang terjadi adalah masjid dibangun sedemikian banyak. Sayangnya belum mampu mengantarkan masyarakat Indonesia seperti para sahabat Rasulullah. Menurut rekapitulasi masjid dan mushala di DKI Jakarta, jumlah masjid yang berada di wilayah DKI sebanyak 2.831 unit dan 5.661 mushala.

Sedangkan di Indonesia, diperkirakan ada 700 ribu masjid. Kendala terbesarnya, masjid baru menjadi bangunan megah, tetapi sepi dari roh umat, kosong, dan hanya untuk kegiatan-kegiatan ibadah mahdah. Kata kunci ketiga adalah ekonomi. Persoalan mendasar dari remaja atau pemuda bangsa Indonesia adalah pengangguran.

Data Biro Pusat Statistik 2007 menyebutkan, jumlah pengangguran berdasarkan tingkat pendidikan mencapai 10.011.142 orang. Pengangguran lulusan SMA mencapai 4.070.553 atau 40,6 persen. Sementara pengangguran lulusan diploma mencapai 397.191 orang atau sekitar 3,9 persen dan pengangguran yang sarjana mencapai 566.588 orang atau sekitar 5,6 persen.

Jika ketiga kelompok level pendidikan ini digabung, jumlah pengangguran di kalangan pemuda mencapai 50,3 persen. Maka, diperlukan konsep pembangunan pemuda yang terencana.

Apa saja bentuknya?
Pembangunan pemuda harus dititikberatkan pada persiapan mereka menghadapi ketidakpastian masa depan, yang mencakup sisi fisik tetapi juga membangun karakter dan kapasitas mereka berupa kompetensi, pendidikan, pelatihan, dan keterampilan. Dengan melihat itu semua, kita sepakat membina remaja atau pemuda masjid dengan kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan adalah penting.

Apa yang ingin dicapai dari upaya ini?
Sebenarnya, tujuan kita sederhana, yaitu ingin memakmurkan masjid. Hal ini sudah kita canangkan melalui "Gerakan Nasional Ayo ke Masjid". Salah satu pilar yang kita usung adalah fokus pada ekonomi. Seperti kita ketahui, jumlah penduduk kita yang lebih dari 220 juta jiwa merupakan pasar yang sangat besar. Indonesia saat ini masuk dalam kelompok G-20. Itu berarti secara ekonomi sangat menjanjikan.

Salah satu faktor pendukungnya adalah jumlah kelompok usia produktif yang besar. Nah, Indonesia sampai dengan 2030 sedang menikmati masa-masa tersebut. Kelompok usia produktif mendominasi piramida demografi penduduk Indonesia. Inilah salah satu golden era untuk mendorong Indonesia menjadi negara besar dari sisi ekonomi.

Mempertimbangkan potensi besar yang terdapat pada diri remaja atau pemuda serta potensi masjid sebagai pusat peradaban umat Islam, dapat disimpulkan ini merupakan kekuatan besar yang menunggu untuk dikembangkan dalam sebuah program pembangunan remaja atau pemuda masjid berbasis kemandirian ekonomi.

Perlukah pembinaan dilakukan di seluruh masjid di Indonesia dan mitra paling penting siapa?
Jika ditanya perlu atau tidak, semua pasti menjawab perlu. Hanya saja, kita masuk ke tahap berikutnya, bagaimana mengimplementasikan impian tersebut. Tahap awal, kita terus melakukan konsolidasi internal dan eksternal. Internal adalah untuk menghimpun organisasi pemuda remaja masjid yang siap untuk menjadi bagian dari rencana besar ini karena JPRMI tidak akan bisa bergerak sendiri.

Kemudian, konsolidasi eksternal kita kuatkan yang tujuannya mencari mitra serta pendukung proyek besar ini. Mitra tak sebatas dari lembaga sosial, tetapi juga menjangkau kegiatan sosial (CSR) perusahaan. Saat ini sudah ada beberapa komitmen baik lisan maupun melalui kesepakatan untuk mendukung kegiatan ini baik dari individu maupun lembaga.

Kegiatan yang kita lakukan, ada pelatihan kewirausahaan yang mengundang perwakilan dari provinsi di seluruh Indonesia. Dalam pelatihan tersebut juga terjadi kesepakatan-kesepakatan program antara perwakilan wilayah dan perwakilan dari Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI, yaitu melalui program sapi untuk masjid.

Setelah acara tersebut, kami juga akan menerima komitmen dari CSR perusahan untuk pemberdayaan masyarakat di sekitar perusahaan tersebut. Nah, kita sedang membuat perencanaan perinci terkait skema bantuan, pendampingan, serta pembinaan bagi pedagang kecil tersebut.

Apakah hanya sebatas pelatihan kewirausahaan atau bantuan keuangan saja yang dibutuhkan?
Sebenarnya, pertanyaan ini persis yang selama ini kita tanyakan ke beberapa jaringan kita di beberapa kesempatan yang lalu. Apakah kita hanya memberikan pelatihan? Ternyata berdasarkan observasi, kalau cuma itu pengembangan kemandirian ekonomi yang kita tuju tidak akan maksimal. Persoalan di lapangan, setelah mereka mendapat pelatihan, bagaimana memulainya?

Niat ada, waktu banyak, tenaga siap, tapi modal tidak ada, ya nggak jalan juga. Dari situ kita merancang tidak hanya pelatihan kewirausahaan, lebih jauh kami meminta peserta pelatihan membawa proposal wirausaha berbasis masjid. Kemudian, proposal dibahas di panel. Salah satu panelis adalah perwakilan dari yayasan penyandang bantuan.

Jadi, terjadi diskusi langsung program mana saja yang masuk dalam usulan bantuan dan proposal mana yang masih harus disempurnakan? Program yang kita desain nantinya selain pelatihan kewirausahaan dan bantuan keuangan adalah pembinaan baik secara manajemen keuangan maupun pembinaan agamanya. Selanjutnya, dibantu untuk pemasaran dan informasi peluang.

Pembinaan manajemen keuangan penting karena sering kali terjadi salah kelola, modal digunakan untuk keperluan konsumtif pribadi dan akhirnya lupa akan kewajiban. Untuk menjaga kedisiplinan dan akhlak yang baik, kita rencanakan juga adanya pengajian pekanan dan evaluasi ibadah harian untuk meningkatkan pemahaman agama.

Untuk saat ini, apa kendala dalam pengembangan program tersebut?
Program ini memang masih masuk dalam tahap persiapan. Jadi, secara teknis kendala utama berkutat pada persoalan minimnya pemuda remaja yang tertarik untuk berkeringat. Istilah saya, berkorban. Bagaimanapun juga program ini untuk membantu kemandirian secara ekonomi, yang dibidik adalah sektor riil berbasis masjid.

Syarat utama menggerakkan sektor riil adalah dengan keluar keringat. Karena tarikan hedonisme masih terlalu kuat, inilah peran masjid untuk membenahi akhlak pemuda dan remaja. Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah dukungan pendanaan.

Apa yg dilakukan JPRMI untuk ikut serta mengembangkan kemampuan wirausaha para pemuda masjid dan masyarakat sekitar masjid?
Ada beberapa komunitas masyarakat yang sudah digarap oleh temen-temen JPRMI, seperti pedagang kecil, produksi kerajinan tangan, budi daya ikan, dan ternak sapi. Melalui pembinaan manajemen, agama serta pelatihan kewirausahaan dan dukungan pendanaan.

Apakah program ini dilakukan di semua masjid di Indonesia?
Saat ini kita baru fokus pada jaringan kita yang ada di 16 provinsi. Jadi, belum di seluruh Indonesia. Insya Allah, pada 2011 ini, kita targetkan 80 persen pengurus wilayah terbentuk, atau kurang lebih 25 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. ed: ferry kisihandi

Sumber: http://koran.republika.co.id/koran/52/142898/Juni_Supriyanto_Tak_Sebatas_Pelatihan

Koran Republika » Dialog Jumat Hal.3

Jumat, 09 September 2011

Published in Liputan Media
Wednesday, 10 August 2011 23:35

Memakmurkan Masjid untuk Kebangkitan Umat

JPRMIOleh Palupi Annisa Auliani

Rabu, 10 Agustus 2011, Republika Cetak Hal 27

Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) prihatin jumlah pengangguran terbuka di Indonesia sangat tinggi. Lebih memprihatinkan, mayoritas pengangguran itu adalah Muslim.

Sebagai upaya mengurangi hal itu, JPRMI mengeluarkan sikap. Salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah dengan mengembalikan fungsi masjid sebagaimana pada zaman Nabi Muhammad. "Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat menegakkan shalat berjamaah," tegas Sekretaris Jendral JPRMI Juni Supriyanto di Bandung, Selasa (9/8).

Menurutnya, masjid juga merupakan tempat untuk menuntut ilmu, pembinaan jamaah, pusat dakwah dan kebudayaan, pusat kaderisasi, serta basis kebangkitan umat Islam. Sebagai salah satu ujung tombak syiar dan dakwah masjid, JPRMI menggalakkan Gerakan Nasional Ayo ke Masjid. Yaitu untuk memakmurkan masjid dengan aktivitas dakwah, pembinaan, dan pemberdayaan, sebagai titik semai bibit kebangkitan umat dan bangsa.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran terbuka mencapai lebih dari delapan juta orang per Agustus 2010. Lebih memprihatinkan, mayoritas pengangguran itu adalah lulusan setingkat SMA. "Persoalan ini harus dicermati umat Islam dengan sungguh-sungguh," tegasnya.

Salah satu kegiatan pemberdayaan yang digelar JPRMI adalah Seminar dan Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Masjid 2011. Berlangsung pada 5-7 Agustus 2011 di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, seminar dan pelatihan ini bertujuan menggairahkan ekonomi kerakyatan berbasis masjid serta membangkitkan motivasi untuk berwirausaha di kalangan remaja dan takmir masjid.

Dasar kewirausahaan dan bantuan modal diberikan dalam pelatihan tersebut. Tujuan akhirnya adalah menjadikan masjid sebagai pusat gerakan alternatif perbaikan dan kualitas hidup umat. Sebagai narasumber, hadir antara lain Valentino Dinsi dari Let's Go Indonesia; Eman Sukirman, ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia; Nasir Tadjang, ketua Yayasan Baitul Maal BRI; dan motivator Zainal Abidin.

"Pengurus masjid, misalnya, sudah seharusnya mencari sumber dana selain menunggu bantuan," kata Ketua Umum JPRMI Otong Somantri. Sudah saatnya, kewirausahaan dikembangkan di kalangan jamaah masjid, terutama yang berusia muda.

Setidaknya, pendanaan masjid bisa didapat dari usaha mandiri. Meskipun hasilnya baru dituai tujuh tahun ke depan, kata Otong, jiwa kewirausahaan harus ditanamkan pada anak-anak muda sekarang.

Ketua Harian Yayasan Baitul Maal BRI, Nasir Tadjang, berpendapat upaya menumbuhkan perekonomian berbasis masjid tetap harus diawali dengan kemampuan dan kapasitas sumber daya manusianya terlebih dahulu.

Taman pendidikan Alquran (TPA), sebut dia, bisa menjadi sumber pendanaan bila dikelola dengan manajemen yang baik.

Nasir mengatakan, Yayasan Baitul Maal BRI sudah memulai langkah pemberdayaan ekonomi dari masjid. Salah satunya adalah dengan memberikan satu ekor sapi kepada masjid untuk diternakkan. Ketika sudah ada yang bisa dijual, 80 persen hasil penjualan untuk pemelihara ternak dan 20 persen untuk masjid.

Gerakan Nasional Ayo ke Masjid yang digagas JPRMI diharapkan bisa menjadi langkah awal dari cita-cita memakmurkan masjid untuk pemberdayaan umat. Juni, yang juga menjadi koordinator gerakan, menyebutkan ada dua pilar lain yang juga disangga JPRMI selain masalah ekonomi, yaitu pendidikan dan kesehatan.

Melalui pendidikan, kata Juni, akan terwujud sumber daya Muslim yang memiliki wawasan luas baik dalam ilmu agama maupun keterampilan lainnya. Saat ini, JPRMI sedang mempersiapkan program Sekolah Berbasis Masjid (SBM). Yaitu, pembinaan nilai Islami secara intensif pasca-TPA, dengan sasaran remaja usia akhir sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

SBM memiliki tiga pengajaran utama. Yaitu pendidikan akhlak dengan menghadirkan cerita para sahabat Nabi, peningkatan kualitas akademik, dan pendidikan keterampilan hidup.

Di dalamnya sudah mencakup kajian kepemimpinan, program awal kewirausahaan, dan pelatihan outbound sebagai penunjang. Selain dengan SBM, JPRMI juga memberikan beasiswa kepada remaja berprestasi dari keluarga tak mampu.

Sedangkan untuk pilar kesehatan, JPRMI mendata dhuafa di sekitar masjid. Mereka yang sudah terdata akan mendapatkan kartu sehat untuk layanan kesehatan dari mitra kerja JPRMI. Untuk jangka menengah, JPRMI membangun jaringan klinik masjid untuk mendukung dhuafa sehat. ed: zaky al hamzah

Sumber : http://republika.co.id:8080/koran/0/140996/Memakmurkan_Masjid_untuk_Kebangkitan_Umat

Published in Liputan Media
Monday, 01 August 2011 11:38

Program "Online" Masjid Raya

Ahad, 31 Juli 2011

launching-3Hidayatullah.com—Program "Online" Masjid Raya (OMR) yang diluncurkan salah satu operator seluler akan mengkoneksikan masjid-masjid besar dari seluruh Indonesia. Target masjid yang akan di-online-kan melalui program ini mencapai 99 Masjid Raya dan Masjid Agung se-tanah air. Tahap awalnya akan dilaksanakan untuk Pulau Jawa, menyusul kemudian ke wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

OMR yang digarap Telkomsel menggandeng Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) merupakan inovasi dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1432 H, sekaligus membawa berbagai aktifitas syi'ar Islam ke dalam jaringan dakwah digital.

Menteri Komunikasi dan Informasi RI, Tifatul Sembiring yang didaulat meresmikan acara itu sangat mendukung OMR. Program ini, baginya, luar biasa memberikan dampak yang baik, meski belum menjangkau keseluruhan masjid di Indonesia yang begitu banyak.

Di samping itu, Tifatul mengimbau perlunya pemanfaatan internet untuk hal-hal positif. Sebab berbagai informasi yang diterima ada yang benar, ada pula yang salah. Di sinilah perlunya check and recheck, sehingga yang terpenting dalam program tersebut adalah kontennya.

"Apalagi diawali di bulan Ramadhan ini," ujar Tifatul.

Menteri dari salah satu partai Islam itu juga berharap dengan diluncurkannya OMR, remaja masjid tidak lagi diidentikan negatif.

"Jangan sampai disangka anak-anak remaja masjid itu kuper (kurang pergaulan.red). Tidak!," tegasnya di depan wartawan selepas acara di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, Ahad (31/7).

Karenanya, Tifatul menganggap koneksi online antar masjid ini cukup menarik untuk pembinaan remaja. Saat ini bangsa Indonesia, dalihnya, sedang mengalami krisis eksistensi identitas akibat banyaknya pengaruh-pengaruh yang datang dari luar.

launching-2

Adapun konten yang akan dikelola dalam OMR meliputi informasi internal masjid yang di antaranya berisi jadwal shalat, jadwal khatib Jum'at, jadwal kegiatan masjid dan informasi lain. Program ini juga merupakan bentuk dukungan Telkomsel terhadap Gerakan Nasional Ayo Ke Masjid yang digadang JPRMI. Sebelumnya JPRMI sukses menggelar karnaval sambut Ramadhan di Jakarta.*

Rep: Muh. Abdus Syakur

Red: Syaiful Irwan

http://hidayatullah.com/read/18250/31/07/2011/menkominfo:-remaja-masjid-tidak-identik-dengan-negatif.html

Published in Liputan Media
Friday, 15 July 2011 06:15

Ayo Ke Masjid

Ayo Ke Masjid!!

BENDERA_GNAKMJadikan Masjid sebagai solusi konkrit atas permasalahan umat. Jaringan Pemuda & Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) mengajak untuk fokus pada 3 masalah utama yaitu Pendidikan, Ekonomi dan Kesehatan.

3 Pilar Program JPRMI Makmurkan Masjid meliputi:  

1. Pendidikan --> dengan Sekolah Berbasis Masjid dan Beasiswa Aktifis Pemuda / Remaja Masjid 

2. Ekonomi --> dengan Entrepreneurship Berbasis Masjid (pemberiaan modal usaha mikro dan kecil berbasis masjid)

3. Kesehatan --> dengan pemberian bantuan kesehatan bagi dhuafa yang belum termasuk dalam program jamkesda pemda, serta layanan kesehatan gratis.

Ayo Ke Masjid !!!

 

Published in Ayo Ke Masjid
Saturday, 09 July 2011 05:46

JPRMI Adakan Pelatihan EO Remaja Masjid

Senin, 04 Juli 2011

ayo_makmurkan_masjidHidayatullah.com--Keseharian kita pasti tidak lepas dari penyelenggaraan kegiatan atau lebih dikenal sebagai event organizer (EO). Mulai dari acara seminar, pelatihan, hajatan, peringatan hari besar agama, Agustusan, hingga kegiatan sosial semisal sunatan masal. Namun tidak sedikit di antara kita yang belum paham bagaimana mengemas sekaligus mengelola kegiatan dengan baik, sehingga pelaksanaan acara terkesan asal-asalan dan sulit mendapat dukungan dari sponsor.

Kondisi ini mendapat perhatian serius dari pengurus Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) daerah Tulungagung, Jawa Timur menyelenggarakan seminar dan workshop dengan tema "Be extra ordinary event organizer".

Acara bertempat di Aula Perpustakaan Daerah Tulungagung, acara pelatihan dan workshop ini dilaksanakan pada hari Ahad tanggal 3 Juli 2011 dengan diikuti sekitar 35 peserta dari berbagai perwakilan lembaga dan organisasi pelajar dan kepemudaan yang ada di Tulungagung.

"Kami ingin memberikan sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi pelajar, mahasiswa serta remas di Tulungagung. Dan insya Allah, ini yang pertama di daerah kami," ujar Safari Hasan, pengurus JPRMI Tulungagung sekaligus penggagas acara ini.

Antusiasme peserta pelatihan dan workshop sangat tinggi dalam mengikuti acara ini, apalagi di sela-sela acara selalu diselingi dengan ice breaking dan joke-joke segar dari pemateri.

"Kemasan acaranya luar biasa, materinya juga sangat bermanfaat," ujar salah satu peserta bernama Johan. */abs

Red: Cholis Akbar

http://www.hidayatullah.com/read/17836/04/07/2011/jprmi-adakan-pelatihan-eo-remaja-masjid.html

Published in Liputan Media

Rabu, 22 Juni 2011

riska

Hidayatullah.com--Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA) berencana memenggelar acara bertema "From Jakarta To Al Aqsha" yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 25 Juni 2011 – Ahad, 26 Juni 2011.

Acara yang tertempat di ruang ibadah utama, Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng itu berupa ceramah umum "Antara Jakarta, Tel Aviv dan Jerussalem" oleh H. Ridwan Saidi (Budayawan Betawi), juga talkshow "Selamatkan Al Aqsha, Perlukah?" oleh; Ferry Nur (Ketua KISPA), dr. Joserizal Jurnalis (Pendiri Mer-C), Dr. Muqoddam Cholil (Ketua KNRP).

Acara juga ditandai launching "Forum Silaturahmi Pemuda untuk Al Aqsha."*

Rep: Administrator

Red: Panji Islam

Sumber: http://hidayatullah.com/read/17640/22/06/2011/riska-gelar-acara-%E2%80%9Cfrom-jakarta-to-al-aqsha%E2%80%9D.html

Published in Liputan Media

Ahad, 03 Juli 2011

alikhlasHidayatullah.com--Manajemen dan operasional Masjid ternyata dapat memenuhi praktik pengelolaan yang sesuai standar internasional. Hal ini terbukti ketika Masjid Al-Ikhlash Jatipadang Pasar Minggu Jakarta pada hari ini, Sabtu 2 Juli 201i secara resmi menerima sertifikasi Sistem Manjemen Mutu ISO 9001 : 2008 dari International Standard Certification (ISC) yang berkedudukan di Sydney, Australia.

Sertifikat diserahkan oleh Mr. Rickman J Mather dari ISC kepada H. Budi Suhirman selaku Ketua Umum Masjid Al-Ikhlash Jatipadang di depan jajaran Pimpinan Dewan Masjid Indonesia (DMI) , para pejabat pemerintah DKI Jakarta, pengurus masjid-masjid DKI dan para tamu atau jamaah yang memenuhi ruang serba guna Masjid Al-Ikhlash Jatipadang.

"Manajemen Masjid yang professional, modern dan berstandard International akan mendukung pengelolaan organisasi dan unit-unit kerja di Masjid Al-Ikhlash yang semakin berkembang sesuai kebutuhan dan tuntutan masyarakat," ujar H Budi Suhirman, Ketua Umum Masjid Al-Ikhlash Jatipadang.

Bagi lembaga sertifikasi ISC sendiri, seperti yang disampaikan oleh Rickman J Mather, adalah suatu kehormatan dan prestasi yang menggembirakan karana Masjid Al-Ikhlash Jatipadang merupakan Masjid dan lembaga pertama di dunia yang telah di audit dalam proses sertifikasi ISO. Ini berarti diseluruh dunia, Masjid Al-Ikhlash Jatipadang adalah tempat ibadah yang pertama menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008.

Sementara itu bagi Masjid Al-Ikhlash Jatipadang, sebagaimana disampaikan oleh H. Budi Suhirman bahwa pencapaian ini merupakan perjalanan dan upaya panjang untuk menyempurnakan manajemen Masjid dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada umat dan jemaah. Upaya ini dilakukan secara berkelanjutan terutama sejak Dewan Masjid Indonesia wilayan DKI Jakarta pada tahun 2009 juga telah menetapkan Masjid Al-Ikhlash Jatipadang sebagai Masjid Unggulan Pertama tingkat wilayah DKI Jakarta.

Keseluruhan proses dan audit guna menperoleh sertifikasi ISO harus memenuhi standar internasional. Antara lain, Masjid Al-Ikhlash Jatipadang harus memenuhi standar internasional di bidang pengendalian dokumen mutu dan catatan mutu, pengendalian produk yang tidak sesuai, tindakan perbaikan dan pencegahan, audit internal, tinjauan evaluasi manajemen, penanganan keluhan jamaah, pengukuran kepuasan jamaah, pemeliharaan dan perbaikan sarana dan prasarana, pengembangan SDM serta pengadaan barang dan jasa.

Saat ini, selain sebagai tempat ibadah masyarakat, manajemen Masjid Al-Ikhlash juga mengelola unit pelayanan klinik kesehatan lengkap dengan tenaga dokternya, Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanan Islam Terpada (KB-TKIT), Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA), Lembaga Pendidikan dan Latihan Al-Qur'an (LPLQ), Media Center, Unit Pemberdayaan Perempuan, Pengembangan Ekonomi Islam melalui penyewaan ruang Toko, Perpustakaan, Pelayanan Zakat dan sebagainya.

"Kami ingin memiliki kinerja dan pelayanan kepada umat yang lebih baik lagi", demikian ujar Budi Suhirman.*/ M Abdi Kristanto

Red: Cholis Akbar

sumber: http://hidayatullah.com/read/17813/03/07/2011/masjid-al-ikhlash-jatipadang-raih-iso-9001%3A2008.html

Published in Liputan Media

Rabu, 22 Juni 2011 14:45 WIB

ayo_makmurkan_masjidREPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Mayoritas masjid masih berfungsi sebagai tempat ibadah. Padahal masih ada fungsi lain yang belum dioptimalkan.

Kepala Puslitbang, Kementerian Agama, Ridwan Lubis menjelaskan fungsi yang belum dioptimalkan itu antara lain fungsi sosial masjid. Fungsi sosial itu mencakup pencetakan kader kepemimpinan, dan pusat pengembangan pendidikan, ekonomi, hukum, seni, dan budaya.

Dikatakan Ridwan, belum optimalnya fungsi sosial masjid ditenggarai keterbatasan wawasan tentang keislaman. Menurut dia, apa yang dipahami umat Islam terhadap agamanya hanya sebatas budaya bukan ajarannya. Selain itu, minimnya optimalisasi masjid juga disebabkan adanya fragmentasi dalam umat Islam. 

Solusinya, menurut Ridwan, umat Islam perlu memperkuat identitas Islam itu sendiri. Islam adalah tata aturan kehidupan yang menuntun setiap Muslim. Karena itu, Islam harus diterapkan secara menyeluruh tidak sepotong-sepotong atau fagmentatif. (Klik Video)

Redaktur: Sadly Rachman
Reporter: Agung Sasongko
http://www.republika.co.id/berita/video/umat/11/06/22/ln6lkn-menuju-muslim-yang-paripurna-perkuatlah-posisi-masjid
Published in Berita
Wednesday, 13 February 2008 23:37

Abdoli: Minimalisasi Kenakalan Remaja

SAMARINDA, TRIBUN- Ratusan remaja masjid se-Kalimantan Timur (Kaltim) mendeklarasikan terbentuknya Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) Kaltim di Masjid Al Maruf di simpang empat Voorfo, Samarinda, Minggu (20/1). Ketua JPRMI Kaltim, Ridwan SSi mengatakan, JPRMI merupakan salah satu wadah yang menaungi para remaja masjid, mendorong pemberdayaan dan optimalisasi pengurusan remaja masjid, khususnya di Kaltim.
"Lewat wadah JPRMI ini pula, silaturrahim dan persaudaraan serta saling bahu-membahu dalam kerja dakwah sebagai pengurus remaja masjid bisa terwujud secara berkelanjutan," kata Ridwan.
Sementara itu, Ketua Umum JPRMI Pusat Adam Abdoli, dalam tablig akbarnya yang bertema Remaja-Pemuda Masjid sebagai Perbaikan Ummat, mengungkapkan saat ini remaja masjid sedang tidur, dan banyak yang tidak mengetahui apa yang terjadi di lingkungannya.
Terjadinya banyak kasus narkoba pada remaja Indonesia saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, ditambah lagi pergaulan bebas yang mengakibatkan hamil di luar nikah. "Data yang saya terima, sudah mencapai lima puluh sembilan persen dari kelompok umum remaja usia lima belas tahun sampai dua puluh lima tahun. Ini menjadi penting bagi JPRMI untuk ikut berpartisipasi menekan dan memperbaiki generasi bangsa melalui masjid sebagai pusat kegiatan. Jadikan masjid sebagai pusat kegiatan," tegasnya.
Diingatkan juga agar seluruh pengurus JPRMI Kaltim, dalam program kerjanya ikut bersinergis dengan program nasional, yaitu ikut berperan meminimalisasi kenakalan remaja akibat pergaulan dan lingkungan yang kurang baik untuk perkembangan generasi bangsa.
Usai tablig akbar, acara yang dihadiri beberapa ormas seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah dan IKADI Kaltim ini dilanjutkan dengan pelantikan pengurus JPRMI Kaltim oleh Adam Abdoli. Acara kemarin diawali dengan pembacaan Al Quran lalu sempat juga dilantunkan dua lagu nasyid oleh pengurus masjid dari Samarinda. (mei)

Published in Liputan Media
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 2
Joomla visitor tracking and live stats

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.